TUBUH DAN DARAH KRISTUS



Tujuan Umum : Anak semakin menyadari akan kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi dalam rupa roti dan anggur, sehingga

                         anak terdorong untuk mengikuti perayaan Ekaristi dengan baik.
Tujuan Khusus: Setelah Minggu gembira, anak diharapkan dapat:

  1. Mengulangi kembali cerita tentang St. Tarsisius

  2. Menyebutkan tugas yang dilakukan Tarsisius

  3. Mengulangi kembali kata-kata Yesus yang diucapkan oleh Imam pada waktu mengangkat hosti dan anggur.

  4. Menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana tentang arti lambang roti dan anggur dalam perayaan ekaristi.

  5. Menyebutkan sikap kita pada waktu menenrima Tubuh dan darah Kristus

Sumber Bahan : Luk 22:7-20, Puji Syukur, Ensiklopedi orang Kudus
Alat Peraga : Gambar orang yang sedang menerima komuni
Langkah-Langkah:
1. Perayaan

  1. Lagu Pembukaan "EKARISTI SAKRAMEN MAHAKUDUS"
    Ekaristi sakramen mahakudus, Tubuh Tuhan dalam rupa roti
    O santapan rejeki umat Allah, yang berziarah menuju Surga
    Para malaekat serta para suci, menghaturkan bhakti penuh hormat
    Yesus kunjungi kami tiap hari, Menghidangkan tubuh dan darah-Nya
    Yesus kunjungi kami tiap hari, Menghidangkan tubuh dan darah-Nya

  2. Doa Pembukaan : Ya Tuhan Allah dan Bapa kami dalam Surga Engkau telah mengutus Yesus Putera-Mu untuk melawati kami. Engkau begitu baik kepada kami sehingga Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Kehadiran-Mu yang paling nyata kami rasakan adalah pada saat kami merayakan Ekaristi. Tetapi sering kurang percaya, sehingga kami tidak dapat menyadari bahwa Engkau hadir di sana. Tolonglah kami agar kami dapat percaya sehingga nama-Mu semakin dimuliakan. Amin

  3. Pembacaan Lilin Kecil

2. Penghayatan

  1. Penggalian pengalaman dari anak

    1. Siapa yang setiap hari Minggu pergi ke gereja?

    2. Untuk apa kita haruis pergi ke gereja setiap hari Minggu?

    3. Apa saja yang terjadi selama kita berdoa di gereja pada hari Minggu?

    4. Apa yang diucapkan romo / pastor ketika mengangkat roti yang bundar dan piala.

    5. Apa yang kalian lakukan ketika romom mengangkat roti dan piala?

  2. Ceritera "SANTO TARSISIUS"   
                Beratus-ratus tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 250, hiduplah seorang anak muda, bernama Tarsisius. Dia seorang Kristiani yang baik. Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, ia berjalan kaki melalui jalan-jalan dan lorong-lorong kota Roma ke tempat orang-orang Kristiani biasa berkumpul. Gua-gua yang ada di bawa tanah yang sebetulnya sebagai kuburan, mereka gunkan sebagai tempat pertemuan. Tempat semacam itu disebut katakombe. Bentuknya seperti gang lurus panjang, tetapi sangat gelap. Liang kubur semua dibuat didinding sebelah kiri dan kanan gang itu dan ditutup dengan batu panjang.
    Orang Kristiani hanya berani berkumpul pada malam hari, karena agama mereka dilarang. Oleh kaisar Valerius polisi Roma diberi perintah mencari orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Kalau mereka sudah ditemukan, mereka ditangkap dan disiksa. Banyak juga Kristiani yang dibunuh karena tetap tidak mau mempersembahkan korban kepada para berhala Romawi.
            Pada suatu hari, pagi-pagi benar, seperti biasa Tarsisius pergi ke Katakombe untuk melayani Misa. Pada hari itu paus sendiri mempersembahkan Misa. Tetapi orang yang hadir hanya sedikit. Maklum baru saja banyak orang Kristiani ditangkap, sedangkan yang lain mengungsi ke luar kota untuk menyelamatkan diri.
    Ketika Misa selesai, Tarsisius tidak segera pulang, tetapi membantu mengatur alat-alat Misa. Waktu itu ia mendengar paus mengeluh: "Kemarin seorang petugas penjara datang kemari dengan diam-diam. Dia mengatakan, bahwa saudara-saudara kita yang dipenjarakan ingin sekali menyambut Tubuh Kristus sebelum dibunuh. Tetapi kebanyakan imam sudah ditangkap. Saya sendiri tidak bisa kemana-mana, sebab sudah dikenal. Mana bisa kami mengabulkan permohonan mereka?" Tarsisius langsung maju ke depan: "Kenapa Bapa Suci tidak mengutus saya? Saya tidak akan dicuragai." Jangan Nak, jawab Bapa Paus dengan lembut, "Engkau masih terlalu muda, tugas itu terlalu berbahaya bagimu." Tetapi setiap pagi saya datang kemari. Santo Bapa. satu-satunya pelayan misa yang selalu datang. Saya tidak takut. apalagi masih pagi, jalan masih sepi akhirnya Bapa Paus setuju permintaan Tarsisius: "Baiklah engkau boleh coba, tetapi hati-hatilah."
    Lalu Bapa Paus berlutut dengan hormat di depan altar, diambilnya beberapa hosti suci dan diletakkannya dalam kotak emas. kemudian kotak emas itu dikalungkannya dengan tali pada leher Tarsisius dan menutupnya dengan toga yaitu sebuah mantol yang dipakainya. Tarsisius segera berangkat. Tarsisius memegang kotak emas itu erat-erat di bawa toga supaya jangan hilang. Hatinya berdebar-debar. Ia merasa bahagia atas kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Bapa paus sendiri.
    Dalam hati ia berdoa kepada Yesus yang sedang dibawanya untuk menghibur para wartawan. Tetapi sekonyong-konyong terdengar suara terdengar suara berseru: "Hai, Tarsisius, akan pergi ke mana pagi-pagi begini?, kok keburu-buru?"Itulah suara seorang teman sekolahnya. Beberapa teman lain datang menyusul. Mereka menarik bahu Tarsisius: "Engkau kelihatan tidak seperti biasa pagi ini,Ada apa sih? Apa yang kau bawa dalam togamu itu ?" Seorang lain mencoba menarik toganya: "Lihatlah agaknya ia membawa sesuatu dari orang Kristiani keparat itu: "Serahkanlah barang itu ! Ayo lekas ! Serahkanlah kepada kami atau ku hajar !"
    Tetapi Tarsisius tidak mau menyerahkannya. Kotaknya tetap dipegang sekuat tenaga. Ia tidak akan menyerahkan Tubuh Tuhannya kepada teman-teman yang tak beriman itu. Kemudian Tarsisius dilempari dengan batu dipukuli dan ditendang tetapi kotaknya tetap tidak dilepaskan. Melihat itu teman-temannya semakin marah dan membabi buta menyerang Tarsisius , salah seorang mengayunkan pentung dan mengenai kepala Tarsisius. Sehingga ia jatuh terpelanting sambil mencucurkan darah. Tepat pada saat itu ada suara orang yang berseru dengan keras: "Apa yang kalian perebutkan?" Seorang tentara muncul. Para penyerbu terkejut dan melarikan diri pontang-panting. Tinggal Tarsisius yang terlentang di atas batu jalan. Ia tak dapat bangun lagi. Tentara itu menghampirinya. Ketika Tarsisius melihat wajah tentara itu, ia tersenyum. Tentara itu dikenalnya. Dia juga orang Kristiani dengan tenaganya yang terakhir Sakramen Mahakudus diserahkan kepadanya. Tentara itu memegang mengerti. Tanpa mengatakan apa-apa digantungkannya kotak kecil itu dilehernya sendiri. Lalu anak itu diangkatnya dengan hati-hati dan dibawa ke sebuah rumah orang Kristiani terdekat. Kemudian ditinggalkan dan ia sendiri pergi ke penjara dan menerimakan komuni dengan diam-diam kepada para tawanan. Karena luka-lukanya terlalu parah, Tarsisius meninggal dan ia dimakamkan di Katakombe dekat makam para Paus.

  3. Pertanyaan cerita

    1. Siapa saja tokoh yang ada dalam cerita tadi? ( Tarsisius )

    2. Apa yang dilakukan oleh Tarsisius untuk orang --orang yang ada di penjara? ( Ia minta kepada Bapa Paus agar diperbolehkan memberikan komuni kudus kepadanya untuk mengirimkan orang-orang Nasrani yang ada di Penjara)

    3. Apa jawaban Bapa Paus sewaktu Tarsisius meminta sakramen mahakudus untuk mengantar ke penjara? ( kamu masih terlalu muda dan tugas itu bagi kamu masih sangat berat bagimu)

  4. Pembacaan Kitab Suci : 22:7-20

  5. Pendalaman
    Adik-adik yang terkasih dalam Kristus, kita sudah mendengar cerita tentang Tarsisius yang begitu baik dan tekun demi mempertahankan imannya. Juga seperti yang kita ketahui ketika Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan para murid-Nya, Ia hendak menyatakan kerinduanNya untuk makan Paska bersama sebelum Ia menderita. Di dalam perjamuan ini Yesus ingin meninggalkan kepada mereka suatu kenangan, bukan berupa barang melainkan DiriNya sendiri. Para murid menyadari bahwa perjamuan terakhir ini sungguh istimewa karena lain daripada perjamuan Paska sebelumnya yang biasa dilakukan. Keistimewaan ini menunjukan betapa besar cinta kasih Kristus kepada para murid-Nya, suatu kurban yang mempererat hubunganNya dengan para muridNya , suatu kurban yang mempererat hubunganNya dengan para murid-Nya yang meramalkan kurban Kristus di salib. Yesus pernah bersabda: " Barangsiapa makan tubuh-Ku dan minum darahKu ia akan tinggal dalam Aku dan Aku dalam Dia". Dalam perjamuan terakhir inilah terpenuhilah janji Yesus. Dengan roti yang menjadi tubuhNya dan anggur yang menjadi darah-Nya pada saat konskrasi. Yesus telah mengurbankan dan menumpahkan diri-Nya kepada para rasul yaitu kepada semua demi pengampunan dosa. Selain memberi tanda kenangan, Yesus memberi tugas baru kepada para murid-Nya, tidak hanya kepada para rasul tetapi juga kepada kita semua dengan perkataan "Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku." Maka sudah sepatutnyalah kalau dalam menerima atau menyambut komuni kita perlu menaruh hormat kepada-Nya dengan menyiapkan bathin sebaik-baiknya dengan jalan mengakukan dosa-dosa kita kepada Pastor.

3. Pengungkapan: Pembina dan anak mempraktekkan sikap yang baik dan benar saat menerima komuni kudus.
4. Kesaksian : Pembina menceritakan pengalaman sewaktu mengikuti Perayaan Ekaristi dengan baik dan sopan.
5. Perwujudan :

  1. Anak diminta untuk menghias tulisan dari sabda Yesus sendiri sebagai berikut:
                        

Barang Siapa Makan DagingKu dan Minum DarahKU
Ia Tinggal di DalamKu, dan Aku Tinggal di Dalam dia


                  

6. Penutup:

  1. Doa Penutup: Ya Yesus yang baik, syukur kami panjatkan kepada-Mu karena Engkau begitu mencinta kami.dan mau tinggal dalam diri kami. Yesus, ajarlah kami setiap hari agar kami dapat bersikap baik dalam menyambut Engkau. Tinggallah selalu bersama kami. Engkaulah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

  2. Lagu Penutup "MARILAH YA YESUSKU"
    ( Madah Bhakti no 286 )
            Marilah ya Yesusku Penebus dan Gembala
            Ya kekasih jiwaku lawatilah hatiku.
            Yesus jangan bertangguh Maski aku tak pantas
            Datang dan segarkanlah jiwaku yang merana
            Gembala yang pemurah, sudi dengar doaku
            Kobarkanlah selalu Kasihku akan Dikau.

Kembali ke halaman depan